
Bandung – Di era saat ini lingkungan bisa menjadi peluang untuk mengembangkan karir dalam profesi sebagai akuntan. Hal inilah yang membuat Anggota muda ikatan akuntan Indonesia wilayah Jawa Barat menggelar insect 10.O, Sabtu (26/09/2026). Salah satu kegiatannya berupa seminar nasional akuntansi bersama pakar akuntan, Dr. Inugrah Ratia Pratiwi, CA yang juga merupakan pengurus IAI wilayah Jawa Barat. Seminar ini mengangkat tema “The Future Ready Accountant : stepping into The green jobs Marketing”.
Dalam seminar tersebut peserta diajak membayangkan situasi wawancara kerja masa depan yang mempertanyakan kontribusi nyata terkait standar PSPK satu.
Seminar ini membedah definisi green jobs sebagai pekerjaan yang berkontribusi langsung pada pemulihan serta perlindungan lingkungan hidup. Kementerian Tenaga Kerja memproyeksikan kebutuhan hingga sembilan juta tenaga kerja hijau untuk lima tahun ke depan.
Kebutuhan tenaga kerja hijau tumbuh pesat namun ketersediaan talenta berbakat dari Generasi Z masih sangat terbatas saat ini. Disinilah sangat dibutuhkan peran seorang akuntan dalam pekerjaan hijau tersebut.
Akuntan hijau membutuhkan keahlian khusus untuk mengukur mengelola serta melaporkan dampak lingkungan hidup kepada seluruh pemangku kepentingan.

Otoritas Jasa Keuangan menerapkan aturan wajib laporan keuangan berkelanjutan bagi seluruh sektor lembaga keuangan di Indonesia. Ikatan Akuntan Indonesia meluncurkan peta jalan standar pengungkapan keberlanjutan yang mengadopsi standar internasional secara penuh dan konsisten.
Laporan keberlanjutan terintegrasi langsung dengan laporan keuangan perusahaan untuk membuktikan komitmen nyata investasi perlindungan lingkungan hidup.
Era ESG menuntut perusahaan menyajikan laporan tahunan yang memuat kinerja lingkungan sosial serta tata kelola yang baik.
Penelitian menunjukkan bahwa kepedulian perusahaan terhadap lingkungan hidup berbanding lurus dengan peningkatan kinerja keuangan secara berkelanjutan. Perusahaan besar mulai mengubah skema operasional dengan mengurangi penggunaan bahan plastik demi menekan angka emisi gas karbon.
Laporan sosial dan tata kelola memaparkan pelatihan tenaga kerja serta peningkatan integritas manajemen perusahaan secara transparan.

Sementara Bursa Efek Indonesia mencatat mayoritas perusahaan terdaftar telah aktif menyusun laporan keberlanjutan beserta pengungkapan data ESG. Oleh karenanya sangat dibutuhkan tenaga kerja hijau dengan kemampuan menghitung pekerjaan yang berkaitan dengan lingkungan.
Dalam seminar peserta diberikan trik untuk mengakses langsung dokumen laporan keberlanjutan melalui portal resmi milik Bursa Efek Indonesia secara praktis. Laporan keuangan konvensional fokus pada angka aset sedangkan laporan ESG mengukur emisi karbon serta etika operasional bisnis.
Lulusan akuntansi memiliki peluang besar menjadi auditor khusus yang memberikan jaminan keandalan atas isi laporan keberlanjutan.
Dengan Konsep Triple Bottom Line menegaskan bahwa keberhasilan bisnis harus memperhitungkan keseimbangan antara profit manusia dan planet bumi. Profesi baru seperti analis ESG hingga akuntan karbon menjadi peluang karir yang sangat menjanjikan bagi lulusan baru.
Oleh karenanya akuntan masa depan wajib menguasai analisis risiko iklim, guna merancang mitigasi dampaknya bagi keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Penguasaan standar keberlanjutan serta kemampuan olah data perangkat lunak menjadi keahlian utama yang wajib dimiliki setiap akuntan. Selain itu sikap kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi membantu akuntan dalam memberikan penilaian profesional terhadap data keberlanjutan.
Sebagai pegangan kedepannya lulusan akuntansi saat ini harus dapat membangun pengalaman Organisasi, magang, proyek riset, dan mengikuti kompetisi. Disisi lain lulusan juga harus bisa improve diri, dengan mulai merapikan profil LinkedIn, susun portofolio mini, dan rajin berbagi insightpembelajaran.