
Bandung, 6 November 2026 — Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jawa Barat resmi menutup rangkaian acara Parade Riset Akuntansi (PRA) XI yang telah berlangsung sejak Kamis, 5 November 2026. Acara yang digelar secara daring ini memasuki hari kedua dengan menghadirkan berbagai agenda penting, mulai dari forum akuntan pendidik, forum guru, sesi presentasi paralel, hingga pengumuman pemenang berbagai perlombaan bergengsi.
Salah satu agenda utama yang menyita perhatian peserta adalah Forum Akuntan Pendidik yang menghadirkan narasumber ahli, Dr. Evita Puspita Sari, CA. Dalam pemaparannya, beliau mengupas tuntas topik krusial mengenai implementasi pendidikan tinggi akuntansi yang selaras dengan kerangka standar yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Diskusi dalam forum tersebut mengerucut pada empat poin utama yang menjadi fondasi penting dalam penyusunan kurikulum akuntansi modern. Poin-poin ini dirancang khusus untuk memastikan mutu lulusan perguruan tinggi benar-benar siap menghadapi tantangan dunia kerja yang kompetitif dan dinamis.
Pembahasan pertama dalam forum akuntan pendidik berfokus pada siklus kurikulum Outcome-Based Education (OBE) yang kini menjadi standar acuan nasional. Implementasi OBE menuntut institusi pendidikan untuk berorientasi pada capaian pembelajaran yang terukur dan aplikatif di dunia nyata.
Poin kedua menitikberatkan pada penyelarasan antara profil lulusan dengan desain pembelajaran yang dikembangkan secara sistematis. Proses ini dimulai dari penentuan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) hingga diturunkan ke dalam Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK).
Tahapan tersebut kemudian bermuara pada pengembangan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang komprehensif dan mendalam. RPS yang matang dinilai mampu memotret secara akurat kompetensi esensial yang wajib dimiliki oleh para mahasiswa sebelum mereka lulus dan terjun ke masyarakat.
Selain aspek kurikulum, forum ini juga membahas kerangka regulasi yang kokoh untuk mencetak generasi akuntan profesional yang berintegritas tinggi. Regulasi ini menjadi payung hukum sekaligus panduan etis bagi dunia pendidikan tinggi dalam menghasilkan tenaga akuntan yang handal.
Kemeriahan hari kedua PRA XI turut diwarnai dengan pengumuman pemenang dari berbagai cabang kompetisi tingkat nasional yang telah disaring secara ketat. Ajang ini menjadi wadah unjuk gigi bagi mahasiswa dan pelajar untuk menunjukkan kreativitas serta kemampuan analisis mereka di bidang akuntansi dan teknologi bisnis.

Untuk kategori Simulation Game Monsoonsim, persaingan ketat dimenangkan oleh talenta-talenta muda berbakat dari berbagai perguruan tinggi ternama. Juara pertama diraih oleh Muhammad Fatih Faiz Binashrillah dari Universitas Presiden, disusul oleh Rahmadani dari Universitas Negeri Padang, dan Cindy Eklezia dari Institut Teknologi Bandung.
Sementara itu, apresiasi tertinggi untuk kategori karya tulis ilmiah diraih oleh para akademisi dan peneliti muda berbakat. Didik Kurniawan dari Polytechnic of State Finance STAN dinobatkan sebagai peraih Best Paper, sedangkan penghargaan Best Presenter sukses diraih oleh Apia Dewi Agustin dari Universitas Gadjah Mada.
Tidak kalah meriah, kategori Short Video Challenge tingkat SMA dan SMK juga melahirkan talenta-talenta kreatif masa depan. Juara pertama diraih oleh SMK Negeri 1 Talaga, disusul oleh SMK Negeri 11 Bandung di posisi kedua, dan SMKS Al-Hasra di peringkat ketiga.
Apresiasi juga diberikan kepada para juara harapan yang menunjukkan karya video kreatif terbaik mereka. Posisi juara harapan diraih secara berturut-turut oleh SMK Purgabaya Bandung, SMKS Al-Hasra, dan SMK Bakti Nusantara 666.
Seluruh rangkaian acara yang padat dan inspiratif ini akhirnya resmi ditutup secara khidmat oleh Wakil Ketua II Ikatan Akuntan Indonesia Wilayah Jawa Barat, Dr. Syafrizal Ikram, CA. Dalam pidato penutupannya, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya evolusi berkelanjutan bagi profesi akuntan di era modern.
Dr. Syafrizal Ikram, CA menegaskan bahwa profesi akuntan dituntut untuk terus bertransformasi agar senantiasa bertanggung jawab dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas. Transformasi ini menjadi kunci agar akuntan tetap relevan di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat.
Beliau juga menyoroti pelaksanaan konferensi internasional dalam PRA XI yang membahas isu-isu strategis global. Isu terkait geopolitik, risiko perubahan dunia, disrupsi teknologi, serta dinamika ekonomi global dan sosial kini telah bertransformasi dari sekadar tantangan masa depan menjadi realitas yang memengaruhi operasional bisnis.
Dalam menghadapi realitas tersebut, Dr. Syafrizal Ikram, CA memaparkan tiga poin pembelajaran utama yang wajib diserap dan diimplementasikan oleh para profesional akuntansi. Poin pertama berkaitan dengan prinsip keberlanjutan yang harus mampu melampaui batas-batas pelaporan konvensional menuju penciptaan nilai tambah yang nyata.
Keberlanjutan sejati, menurut beliau, hanya dapat tercapai apabila kinerja ekonomi yang kuat berjalan selaras dengan tanggung jawab lingkungan. Selain itu, aspek penguatan dampak sosial juga menjadi elemen krusial untuk memperkuat partisipasi bersama dalam pembangunan berkelanjutan.
Poin pembelajaran kedua berfokus pada peran inovasi digital yang berfungsi memperkuat kapasitas kerja profesi, bukan sekadar menggantikannya. Kehadiran teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan otomatisasi analisis data membuka ruang luas untuk mendongkrak efisiensi, transparansi, serta kualitas pengambilan keputusan bisnis.
Sebagai seorang profesional akuntan, tanggung jawab utama di era digital bukan lagi sekadar memproduksi informasi dengan lebih cepat. Lebih dari itu, akuntan harus memastikan bahwa informasi yang disajikan memiliki tingkat keandalan, relevansi, dan kepercayaan yang tinggi bagi para pemangku kepentingan.
Poin pembelajaran ketiga yang tidak kalah penting adalah penegakkan tata kelola yang beretika di tengah lanskap informasi yang penuh ketidakpastian. Organisasi modern tidak hanya membutuhkan kekuatan finansial yang tangguh, melainkan juga integritas, akuntabilitas, transparansi, dan keberanian moral dalam mengambil keputusan strategis.
Keputusan strategis tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif yang luas pada seluruh aspek kehidupan, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Dengan nilai-nilai luhur ini, profesi akuntan diyakini akan terus berdiri di garda terdepan sebagai penjaga moral dan pilar kepercayaan finansial.
Menutup seluruh rangkaian kegiatan tahun ini, panitia dan pengurus IAI Wilayah Jawa Barat mengumumkan agenda penting untuk penyelenggaraan tahun depan. Estafet pelaksanaan Parade Riset Akuntansi (PRA) XII pada tahun mendatang resmi dipercayakan kepada Universitas Presiden sebagai tuan rumah berikutnya.